RONDA


Jam 10 malam tepat, aku berangkat menuju Pos Ronda. Sesampainya di sana aku disambut hangat oleh warga lain yang sudah datang lebih dulu. Kami lalu duduk di Pos ronda dan berbincang-bincang sambil menunggu warga lain datang. Tepat jam 12 malam kami lalu berkeliling kampung untuk berpatroli menjaga keamanan dan berharap dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan di kampung kami.

Selesai berpatroli kami kembali ke Pos Ronda dan berkumpul untuk memasak nasi liwet untuk mengisi perut kami yang kosong, sementara yang lain ada yang bermain kartu gaple dan Catur. Beberapa dari kami yang tidak bisa memasak, menunggu nasi liwet matang sambil berbincang-bincang bersama salah seorang tetua kampung yang kebetulan mendapat jadwal ronda yang sama. Pak Haji Abdul, ia seorang pria tua yang kharismatik dan cukup dihormati di kampung kami, usianya sekitar 65 tahun.

Pak Haji, begitu kami biasa memanggilnya banyak bercerita tentang masa mudanya yang banyak dilalui dalam masa-masa sulit, dan ia sering memberikan nasehat kepada kami untuk selalu berbuat kebaikan. Malam ini pak haji bercerita banyak dan memberikan nasehat seputar pentingnya memberi, jika kita banyak memberi kepada orang lain maka kita akan mendapatkan pahala dan harta yang kita amalkan akan mendapatkan balasan dari Tuhan sebanyak 10 kali lipat.

Kami semua mendengar dengan serius ceramah Pak Haji malam ini, sampai akhirnya kami bergantian bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Berhubung pengetahuan agamaku yang kurang, malam itu aku hanya jadi pendengar dan tidak banyak memberikan komentar, sampai akhirnya Pak Haji menegurku memintaku untuk ikut bercerita.

Kemudian aku bertanya kepada beliau tentang apa hukumnya dalam agama jika kita menggunakan barang hasil kejahatan, seperti hasil menipu, mencuri atau barang hasil pemalsuan (Bajakan). Ia menjawab bahwa itu adalah perbuatan yang Nista, tidak baik dan berdosa. Aku lalu bercerita bahwa selama ini bangsa kita dikenal oleh Negara lain sebagai Negara pembajak dan pengguna perangkat lunak palsu, aku kemudian memberikan sedikit penjelasan kepada para warga tentang hal tersebut tentang apa itu komputer, perangkat lunak dan hak cipta. Beberapa diantara warga adalah pekerja kantoran yang kesehariannya bekerja menggunakan Komputer, mereka berkata kepadaku kalau perangkat Lunak di komputer mereka mungkin perangkat lunak bajakan, karena setiap ada kerusakan atau perbaikan yang memerlukan Install Ulang sistem Operasi, mereka hanya membayar Rp 50 ribu-100 ribu kepada tukang servis, padahal harga Lisensi Perangkat lunak tersebut yang orisinal adalah 20 kali lipat harga tersebut, besar kemungkinan perangkat lunak yang terpasang adalah perangkat lunak bajakan.

Jam sudah menunjukan pukul 2 pagi, kami masih larut dalam obrolan. Aku menjelaskan kepada warga, bahwa usaha untuk membangun bangsa kita sebagai bangsa yang jujur dan mandiri akan sangat sulit dilakukan jika untuk hal-hal tertentu misalkan perangkat lunak untuk komputer, kita masih menggunakan perangkat lunak bajakan. Mungkin alasan utama adalah ketidaktahuan dan ketidakmauan, tidak tahu legalitas hukum terhadap barang yang kita pergunakan dan ketidakmauan untuk menggunakan barang yang legal serta tidak melanggar hukum, mungkin juga karena biaya untuk menggunakan Perangkat lunak Orisinal harganya terlalu mahal untuk ukuran masyarakat kita sehingga lebih memilih perangkat lunak bajakan yang berbiaya lebih murah. Bisa dibayangkan jika kita rinci maka untuk memiliki seperangkat komputer rakitan standar yang memiliki aplikasi cukup lengkap bisa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, biaya untuk membeli lisensi perangkat lunak bisa untuk membeli sebuah perangkat komputer baru.

Tampilan Desktiop Windows Bajakan
Tampilan Desktop Windows Bajakan

Peringatan tentang kemungkinan kita menggunakan Windows bajakan.
Peringatan tentang kemungkinan kita menggunakan Windows bajakan.


Lalu aku menjelaskan tentang perangkat lunak bebas dan terbuka yang bebas dipergunakan dan berbiaya sangat murah serta legal. Para warga terlihat tertarik mendengarkan ceritaku, aku memberitahu mereka bahwa perangakt lunak bajakan rata-rata dijual di pasaran dengan harga Rp 30 sd 50 Ribu rupiah, sedangkan perangkat lunak bebas dan terbuka seperti Linux bisa didapatkan secara gratis, dengan segudang paket Aplikasi yang telah lengkap serta memiliki tampilan yang indah dan unik.

mudah-mudahan obrolan malam itu dan cerita yang kusampaikan bisa berguna dan diteruskan oleh para warga kepada anak-anaknya sehingga kelak ketika anak-anak mereka menggunakan Komputer, mereka tidak akan menggunakan perangkat lunak bajakan.

Obrolan kami berakhir ketika Adzan subuh berkumandang dari mesjid, kami lalu berangkat bersama menuju mesjid untuk melakukan shalat subuh berjema’ah, dan kemudian pulang untuk beristirahat.

salam

Hidup adalah sebuah pilihan, tetapi menggunakan barang Illegal adalah bukan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s